64 Satuan Pendidikan di Kab. Bogor jadi Sekolah Penggerak

INTELMEDIAUPDATE-BOGOR-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Merdeka Belajar 7 Program Sekolah Penggerak, Senin (1/2).

Program Sekolah Penggerak atau SP nantinya akan diterapkan pada 2.500 sekolah di semua tingkatan dari mulai PAUD, SD, SMP, SMA, dan SLB di Indonesia.

Di Kabupaten Bogor ada 64 satuan pendidikan yang diusulkan menjadi Sekolah Penggerak.

“Alhamdulillah, Kabupaten Bogor terpilih oleh Kemendikbud dari 110 kabupaten dan kota di Indonesia, atau 8 dari 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat,” ujar Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Atis Tardiana.

Atis pun merincikan, 64 satuan pendidikan yang dipilih menjadi Sekolah Penggerak, terdari dari 4 PAUD, 30 SD, 19 SMP, 9 SMA dan 2 SLB.

“Tapi dari 64 sekolah ini belum tentu semuanya menjadi Sekolah Penggerak, nanti akan diseleksi oleh Kemendikbud,” jelas Atis.

Koordinator Bidang Tata Kelola pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Winner Jihad Akbar mengatakan, program Sekolah Penggerak atau SP akan diterapkan pada 2.500 sekolah tersebar di 100 kabupaten/kota di berbagai provinsi.

“Program Sekolah penggerak akan diterapkan di 2.500 sekolah di seluruh Indonesia mulai jenjang SD sampai SMA. Untuk SMA sendiri ada 374 sekolah dan selebihnya SD dan SMP. Kita ada 100 kabupaten/kota yang akan ditetapkan,” ujarnya.

Sekolah Penggerak merupakan program Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim sebagai katalis untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia. Juga menjadi penggerak bagi sekolah-sekolah lainnya.

Jihad menambahkan, dalam sekolah penggerak tersebut nantinya akan dilakukan penguatan-penguatan. Termasuk penguatan guru dan kepala sekolah yang nantinya bakal menjadi motor penggerak.

Sehingga dalam PSP ini juga dibutuhkan komitmen pemerintah daerah untuk memberikan dukungan. Di antaranya dukungan komitmen untuk tidak melakukan penggantian/mutasi guru/kepala sekolah selama program berlangsung.

“Komitmen ini kita butuhkan dari dinas atau pemerintah daerah setempat agar SDM [sumber daya manusia] yang sudah kami framing dan sudah kami beri pendampingan dalam program ini tidak dipindah,” imbuhnya.

Selain itu, komitmen lain adalah kesediaan pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran APBD. Itu untuk memenuhi dana-dana yang mungkin timbul dalam program ini. “Misalnya dalam Sekolah Penggerak ini nanti akan ada digitalisasi sekolah yang memerlukan sarana dan prasarana digital,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (GTK Dikmensus) Kemendikbud, Yaswardi mengatakan selain sekolah penggerak, pemerintah juga menggelar program guru penggerak.

“Tahun ini kita akan ada 7.800 guru penggerak dan ke depan kami harapkan semua guru menjadi guru penggerak. Saat ini sedang dilaksanakan seleksi guru penggerak untuk angkatan ketiga,” ujarnya.

Guru penggerak adalah interactional leader/pemimpin yang interaktif yakni guru yang mampu menciptakan kondisi yang berorientasi kepada murid. “Guru penggerak ini benar-benar mampu menggerakkan pendidikan ke arah yang lebih maju,” ujarnya.

Untuk diketahui, program Sekolah Penggerak diluncurkan sebagai upaya untuk melaksanakan visi pendidikan Indonesia, yakni mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila.

Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter, diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru).

Program Sekolah Penggerak merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya.

Program ini akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju. Program dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi Sekolah Penggerak.

Program ini akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju.

Program dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi Sekolah Penggerak.(jam/pkr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *