Kerumunan Warga Sambut Presiden di NTT Disoal, ini Kata Relawan Duta Jokowi

BOGOR – Kunjungan Presiden Joko WIdodo (Jokowi) ke Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), baru-baru ini menuai kritik beberapa pihak. Warga yang berkerumun pun disoal. Bahkan, Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan yang diwakili Kurnia melaporkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Bareskrim Polri, Kamis (25/2/2021), meski akhirnya ditolak polisi laporan tersebut.

Menanggapi kerumunan yang terjadi, Relawan Jokowi pun angkat suara. Ketua Duta Jokowi Bogor Raya NFR Nasution mengatakan secara lugas, kerumunan yang terjadi di NTT tak bisa disamakan dengan kasus Habieb Rizieq Shihab (HRS). Bahkan, dia menilai para pendukung FPI terkesan membabibuta melempar tuduhan.

“Kerumunan saat Presiden RI Jokowi ke NTT jelas beda dengan Rizieq Shihab. Itu adalah simbol negara. Kalau masyarakat tidak mencinta presidennya, tidak akan terjadi kerumunan. Kerumunan itu terjadi spontanitas. Itu karena sayangnya warga yang kangen ingin melihat Jokowi,” kata pria yang akrab disapa Ucok Nasution saat ditemui di sekretariatnya, Jalan Ciremai Ujung, Kelurahan Bantarjati, Kota Bogor, Sabtu (27/2/2021).

Dia melanjutkan, warga datang hanya untuk bertemu Jokowi.

“Kalau Jokowi bukan presiden, saya yakin masyarakat NTT tidak akan berkerumun. Jokowi datang sebagai presiden, rakyat yang rindu kepala negara yang berpihak pada rakyat, akhirnya mereka datang. Dan, dimanapun Jokowi datang, rakyat selalu menyambutnya. Jadi, secara tegas, itu bukan kerumunan yang berlama-lama,” tuturnya.

Bahkan, sambungnya, saat itu sudah dihalangi aparat keamanan berkerumun.

“Dan, itu pun bukan undangan, bukan seruan. Jokowi tidak keluar dari mobil dan tidak mengajak salaman. Jokowi hanya lambaikan tangan demi rasa hormatnya kepada masyarakat. Itu artinya, kerumunan sesaat yang terjadi bukan diundang. Nah, ini masyarakat NTT aja ada yang menangis setelah melihat Jokowi,” tuntasnya. (Nesto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *