Kata Tuhanmu Adalah Kebudayaanmu

Oleh : Ki SADA JAGAD

 

INTELMEDIAUPDATE.COM – Penekanan tulisan ini ada pada nilai syariat atau bentuk peribadatan.  Jadi, yang disebut ayat-ayat Tuhan itu sebetulnya produk hasil pencerahan (spiritual) seseorang, dalam merenungi, memahami, menghayati dan terhadap lingkungan sekitar (kulturnya,red), dimana seseorang itu berada.

Memang lebih luasnya ada pada tingkatan merenungi diri sampai tingkatan alam semesta. Kadang memang tidak terlepas juga mendapat informasi dari entitas kesadaran yang lebih tinggi dimensinya. Biasanya akan disesuaikan (downgrade-kan) oleh sang pencerah, karena memang kebudayaan setiap wilayah itu berbeda tingkatan kesadarannya dalam setiap fase-fase zaman.

 

Tapi pada dasarnya, terutama perihal syariat atau jenis peribadatan itu dimulai dari kultur  atau kebudayaan atau kearifan lokal. Dimana seseorang pembawa ajaran atau sang pencerah itu berada, perhatikanlah setiap agama.  Dengan ayatnya masing-masing, semua yang katanya ‘kata Tuhan’ sebetulnya sedang bicara kearifan lokalnya masing-masing.

 

Sedikit contoh perbedaannya, ketika ‘kata Tuhan’ islam makan babi haram, namun mengapa ‘kata Tuhan’ di Kristen, hindu dan lain nya halal?.  Bukankah sama-sama ‘kata Tuhan’, kok berbeda?. Jika ‘kata Tuhan’ di islam minum khamar itu haram, namun ‘kata Tuhan’ di agama lain bisa saja halal.  Ketika ‘kata Tuhan’ di Islam makan daging sapi itu halal, mengapa ‘kata Tuhan’ di Hindu itu haram? Bukankah sama-sama bicara ‘kata Tuhan’.  Itulah pemahaman kultur kearifan lokal masing-masing,

 

Tapi tenang saja, anda tidak akan disalahkan jika berpegang pada keyakinan agama anda. Yang suka jadi masalah adalah, ketika anda merasa benar sendiri terhadap pemahaman dan keyakinan anda dan menyalahkan pemahaman dan keyakinan orang lain. Sedikit contoh lagi, kali ini soal persamaannya.  Jika anda seorang Islam dan yakin bahwa berhijab atau jilbaban hanya ‘kata Tuhan’ dalam islam, maka anda salah.

 

 

Sebab kultur  Timur Tengah rata-rata perempuannya sebelum datang Islam pun sudah berhijab. Lihatlah biarawati Katolik, lihat juga syariat hijab dan cadar perempuan Yahudi, mereka sudah lebih dulu bersyariat tentang itu. Lihat juga pakaian sari di India, itu ada kerudungnya, dan di banyak wilayah Timur Tengah memang kebudayaan dan religinya seperti itu, sebelum datang Islam.

 

Apakah salat hanya milik islam? Tidak.  Kristen ortodoks sudah melakukan itu satu abad sebelum Islam lahir. Di hindu ada Surya Namaskar dan bentuk lainnya disebut Yoga, intinya ada pada simbolik gerak – mengolah nafas, dan memahami spiritnya jika ada mantra (bacaan,red). Untuk akselerasi dan peningkatan diri secara jasmani dan rohani dalam kesadaran memahami kehidupan secara luas yg ter implementasi dalam kesadaran keseharian. Namun setiap ajaran memiliki istilah berbeda-beda.

 

Lalu bagaimana puasa? Setiap agama memiliki cara puasanya masing-masing. Silahkan pelajari di setiap agama. Beribadat menghadap batu, patung atau bangunan tertentu atau tembok sudah jadi kebiasaan agama-agama pagan, dan itu juga diikuti oleh Islam dengan menghadap bangunan Ka’bah dengan ada tradisi mencium batu hajar aswadnya. Juga Yahudi, yang menghadap –  mencium tembok ratapan ketika beribadat. Juga Nasrani, Hindu, Buddha, dan lainnya yg menghadap patung atau arca “idolanya” masing-masing.

 

Sebetulnya masih banyak lagi contoh persamaan dan perbedaan tentang ‘kata Tuhan’ di dalam setiap agama yang sebenarnya bagian dari kultur wilayah masing-masing. Rajinlah ber iqro (membaca) dan mengkaji setiap kebudayaan di berbagai wilayah. Pelajarilah setiap agama, anda akan menemukan inti dari semua perbedaan dan persamaannya.

Dan seperti biasa, tenang saja, anda tidak akan disalahkan, tetap keyakinan andalah yang paling benar, menurut anda sendiri. Setiap pembawa ajaran atau sang pencerah akan membuat peribadatan sesuai kultur  dan kearifan lokalnya masing-masing,

Ini yang disebut dengan “Setiap kaum memiliki syariat atau aturan ibadatnya masing-masing” Yang dirubah oleh setiap pembawa ajaran adalah kebiasaan buruk kaumnya, kejahatan dan keterikatan diri dengan sesuatu berhalanya.

Namun bentuk ibadatnya masih mengikuti kebiasaan kultur  atau kebudayaannya. Setiap pembawa ajaran atau sang pencerah itu menghormati ajaran leluhur dan kulturnya masing-masing.  Maka akan jadi heran jika kaum beragama menolak ajaran leluhur dan kulturnya sendiri hanya karna menganut agama atau ajaran dari wilayah lain.  Sungguh ironi,  bertentangan dengan sang pencerah alias pembawa ajarannya sendiri.

 

Setiap ajaran tidak boleh dipaksakan ke wilayah lain, karena setiap wilayah sudah memiliki aturan atau syariatnya masing-masing yang  sesuai dengan lingkungan dan alamnya. Begitu juga pada perorangan, tidak bisa dipaksakan, karena setiap diri akan menyesuaikan dengan alur DNA-nya sendiri dengan kecocokannya masing-masing.

Maka dalam Islam pun sebenarnya dikatakan “Tidak ada paksaan dalam ajaran (diin) ini”.  Maka jelas aturannya, tidak boleh memaksakan doktrinmu dan tidak boleh menyalahkan  pemahaman yang berbeda dengan doktrinmu.

 

Jadi sebenarnya, kalau kita mau jujur, ketika kita bicara tentang ‘kata Tuhan’, kita sedang bicara Tuhan yang ada dalam pikiran dan pemahaman kita sendiri. Maka kita merasa benar sendiri dan banyak sekat dalam pikiran kita terhadap suatu pemikiran di luar pemahaman diri kita. Seolah jika tidak sesuai dengan pikiran dan pemahaman kita selama ini, orang lain itu salah, sesat dan sebagainya. Ini efek doktrin turun temurun dalam sebuah dogma. Padahal “kata Tuhan”  yang  dipahami disitu, tetap saja tidak lepas dari kebudayaan dari wilayah ajaran itu dilahirkan.Di kemudian hari setelah sang pembawa ajaran tiada, di bumbui dengan tafsir-tafsir manusia yang  dianggap memahami agama (ulama, biksu, pendeta, dan lainnya) dan tafsir-tafsir itu dijadikan doktrin.

 

Sebab, jika kita bicara dan paham tentang Tuhan yg sesungguhnya, sang maha pencipta semesta raya ini. Maka tidak akan ada lagi merasa benar sendiri terhadap pemahaman kita sendiri, tidak ada lagi sekat atau batasan pemikiran. Karena semuanya berasal dari DIA sang Maha, semua wujud adalah maujud (manifestasi-NYA). Semuanya adalah DIA- sang Maha pencipta setiap wujud sekaligus wujud itu sendiri. (*/DP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *