LBH 1201 Prihatin, Duit Sekolah Ibu Pemkot Miliaran, Tebus Ijazah Siswi Miskin Tak Mampu

BOGOR – Setelah sebelumnya, Kepala Sekolah SMP swasta Rosmiati di Jalan Kolonel Enjo Marta Disastra III, (Komplek Asrama Teplan) Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor menolak mentah-mentah memberikan ijazah siswi gakin Mia Lestari setelah 3 tahun ditahan. Sang ibunda yang namanya hampir mirip, Rusmiati mengadu ke LBH 1201 di Jalan Malabar, Kota Bogor, Senin (8/3/2021).

Kepada  Ketua Harian Julio Jermia Watumlawar, SH didampingi Astrid Lizhanda Ketua Divisi Kerjasama & Hubungan Antar Lembaga LBH I20I, orangtua Mia yang berprofesi sebagai buruh cuci itu menyampaikan curhatnya usai ditinggal pergi selamanya oleh sang suami yang bekerja sebagai pengemudi ojek online, setahun lalu.

“Saya pasrah. Sebagai buruh cuci, pendapatan saya hanya cukup untuk makan harian saja. Sementara, tunggakan saya ke SMP Siliwangi senilai Rp2.050.000. Dalam waktu dekat, Mia anak saya yang sekarang duduk di kelas 3 SMK akan ujian, dan gurunya menanyakan ijazah SMP, tapi apa daya tak diberikan,” ucapnya.

Menanggapi keluhan orangtua Mia, Julio mewakili LBH I20I menyampaikan, sesuai ketentuan di lembaganya ia menerima pengaduan dan akan melakukan verifikasi. Dan, pelajari dulu semua informasi dan dokumen pendukung, kronologis lengkap yang telah dibuatkan oleh orangtua yang bersangkutan.

“Serta, akan dilakukan kajian berupa pendapat hukum yang akan diteruskan tahapan langkah hukum yang akan ditempuh, Namun secara prinsip tentu kami secara kelembagaan prihatin dan terpanggil serta berkomitmen dalam memberikan pembelaan terhadap dugaan penahanan ijazah siswi gakin yang dimaksud,” tuturnya.

Ia juga berharap bahwa semua warga negara baik miskin atau pun kaya punya hak yang sama atas pendidikan

“Dan, negara harus hadir memastikan hal demikian supaya tidak terulang kembali hal semacam itu. Dari perspektif perlindungan anak, mestinya negara diwakili pemerintah daerah juga wakil rakyatnya harus hadir untuk menyelematkan kejadian semacam ini,” lanjutnya.

Masih menurut Julio, menyimak yang disampaikan Rusmiati, untuk makan sehari-hari saja disebut sudah pas-pasan, jadi terasa wajar melunasi tunggakan Rp2.050.000 untuk menebus ijazah SMP putrinya, Mia Lestari terasa berat.

“Kami dari LBH 1201, punya keterpanggilan membela siswi gakin. Kita sepakat kebodohan dekat dengan kemiskinan. Harusnya jika anak bangsa semangat untuk pendidikan, mestinya diperhatikan dan menjadi kewajiban negara dengan segala perangkatnya dalam hal ini oleh pemkot dan Juga anggota DPRD Kota Bogor sebagai Perwakilan Rakyat. Bukan terkesan dibiarkan! Atau, tutup mata. Kita berharap, kedepan tak lagi terulang kasus seperti ini,” imbuhnya.

Dia juga mengaku prihatin, saat membandingkan ‘Sekolah Ibu’ di Kota Bogor yang menurutnya, mungkin saja menghabiskan miliaran rupiah. Tapi, satu sisi, untuk membantu siswi miskin malah tak punya anggaran.

“Bila Perlu dengan segala keterbatasan kami, LBH 1201 siap membantu bayar jika dibutuhkan nanti dan Pemkot atau Dewan tidak usah ikut membayar. Tapi, kami secara organisasi akan sikapi dengan upaya upaya pembelaan secara hukum terhadap hak-hak dasarnya sebagai warga negara yang berhak atas akses pendidikan. Negara harus hadir supaya tidak ada lagi Mia Mia lain di negeri ini, khususnya di Kota Bogor. Hal serupa jangan sampai berulang. Kami, juga akan minta KPAID harus memberikan perhatian serius karena ini masih masuk dalam klasifikasi Anak. Kami juga menyerukan elemen-elemen di Kota Bogor, untuk bersama bekerjasama melakukan pembelaan yang dibenarkan oleh hukum,” tuntasnya. (Nesto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *