Dr Agus Surachman : Aksi Teror Tak Berkaitan dengan Agama

BOGOR- Di tengan persidangan Habieb Rizieq Shihab (HRS) online di Pengadilan Jakarta Timur tentang kasus kerumunan di Megamendung, Petamburan dan RS UMMI, publik Tanah Air dikagetkan dengan isu bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makasar dan seorang wanita muda melakukan serangan tembakan di Mabes Polri. Apakah hal itu ada hubungannya? Demikian Agus Surachman melalui rilis yang diterima redaksi media online ini, Minggu (4/4/2021).

“Apakah ada hubungan antara kedua peristiwa tersebut di atas, yang ingin membuat narasi bahwa yang membuat teror tersebut di atas adalah pendukung HRS yang protes dan tidak suka HRS disidang on line?  Ini harus terus didalami dan diungkap oleh Kepolisian, agar semuanya terang benderang, masyarakat menjadi tahu, apa sebenarnya yang terjadi. Apakah ada sebuah rekayasa atau tidak,” ujar akademisi yang juga dosen di salah satu perguruan tinggi di Bogor tersebut.

Dia melanjutkan, tak menutup kemungkinan ada upaya melakukan brainstorming terhadap orang-awam , lugu dengan doktrin-doktrin agama yang ditafsirkan secara tidak benar.

“Dalam perang di Syria sudah terbukti yang melatih dan memberi senjata adalah Israel dan Amerika. ISIS dijadikan alat untuk mengadu domba dan menghancurkan Negara Syria. Dikutip  dari Global  Research, sebuah  organisasi riset media independe di Kanada Snowden mengungkapkan  bahwa satuan intelijen dari Inggris, AS dan Mossad Israel, bekerjasama untuk membuat sebuah negara khalifah baru yang disebut ISIS,” tuturnya.

Dan, dalam waktu bersamaan, sambungnya, mereka mengirim para kontraktor pebisnis menggarong sumber daya alam Syria, terutama ladang-ladang  minyak dengan pengawalan tentara-tentara bayaran.

“Sudah jelas bahwa Agama Islam atau agama apapun tidak ada ajaran seperti itu dan umat Islam pasti mengutuk keras perbuatan kekerasan tersebut. Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan untuk menciptakan terror atau ketakutan terhadap masyarakat, dengan motif ideology, politik dan gangguan keamanan,” tandasnya.

Agus berujar, terorisme juga bisa dilakukan oleh negara yang ditujukan kepada rakyatnya.

“Misalnya angkatan darat, polisi atau institusi lainnya yang melakukan kekerasan pada rakyatnya di Negara lain. Misalnya Militer Miyanmar yang melakukan  kekerasan bahkan sebanyak 550 orang rakyat  dibunuh  ketika  melakukan demonstrasi anti kudeta. Atau, pembantaian lapangan Tiananment Tahun 1989 di Beijing, RRT. Kita harus mengutuk terorisme, tetapi tidak setuju kalau terorisme itu dilabelkan kepada umat beragama khususnya Islam secara serampangan,” tuntasnya. (Nesto)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *