AYO BERSAMA CEGAH HOAX, SARING SEBELUM SHARING

Hingga Minggu, 15 Agustus 2021 lalu, Kementrian Kominfo mencatat mencatat terdapat 1.854 isu kabar bohong atau hoax seputar virus corona (COVID-19. Kominfo juga telah mengidentifikasi 1.854 isu hoax Covid-19 pada 442 unggahan media social.

Tak hanya itu, Johnny juga mencatat terdapat 293 isu hoax seputar vaksin virus corona pada 1997 unggahan di media sosial. Lalu, terdapat 42 isu hoax PPKM Level 4 pada 640 unggahan di media sosial. Hal itu disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate, Minggu (15/8/2021).

Seperti ungkapan, satu peluru hanya mampu membunuh satu orang, tetapi satu berita hoax mampu membunuh ribuan orang. Itu fakta sejarah, bagaimana hoax dapat menyebabkan peperangan, genosida dan konflik yang menyebabkan perpecahan suatu bangsa. Konon, Perang Dunia II juga merupakan salah satu akibat berita hoax.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks atau hoax adalah berita bohong atau berita tidak bersumber. Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hoax dibuat seseorang/kelompok dengan beragam tujuan. Hoax biasanya muncul ketika sebuah isu mencuat ke permukaan, namun banyak hal yang belum terungkap atau menjadi tanda tanya.

Salah satu ancaman terhadap kebebasan sipil saat ini muncul dari hoax dan berita palsu (fake news) yang dikirim secara berulang-ulang, sehingga dipercaya sebagai kebenaran. Akibat penyebaran hoax dan fake news yang kemudian dipercaya sebagai kebenaran.

Kepercayaan terhadap berita hoax kemudian menjadikan masyarakat tidak cerdik dalam menerima berita tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.Tujuan dari penyebar berita hoax adalah membuat kegelisahan, rasa benci, dan bahkan juga rasa ketakutan bagi pembacanya. Dampak yang ditimbulkan adanya berita hoax akan sangat luar biasa antara lain, berupa dampak sosial,ekonomi, politik, keamanan dan yang lebih besar adalah bisa mengancam keutuhan negara.

Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) pada tahun 2017, saluran penyebaran hoaks terbesar di Indonesia adalah melalui media sosial dan aplikasi chatting. Sedangkan topik utama yang paling sering diangkat dalam berita-berita palsu adalah hal-hal yang berkenaan dengan isu politik, SARA, dan kesehatan.

Hoaks meluas dikarenakan informasi yang disebarkan umumnya bersifat sensasional, dan membuat penerimanya seperti terundang menyebarkan kembali informasi tersebut tanpa terlebih dulu melakukan konfirmasi atas kebenarannya, demi eksis.

Salah satu faktor yang paling sering terjadi adalah karena informasi tersebut merupakan terusan dari orang terdekat atau orang yang dapat dipercaya, sehingga dengan demikian para penerima berasumsi bahwa kabar tersebut adalah benar adanya.

Lalu, bagaimana mengenali hoaks? Berikut beberapa cara mengenali hoaks yakni :
1. Selalu bersikap skeptis, jangan membagikan sesuatu kecuali diketahui itu benar.
2. Cari kata kunci dari pesan WhatsApp yang mencurigakan untuk dijadikan bahan melalui mesin pencari. Anda mungkin akan melihat artikel terverifikasi muncul pertama kali di hasil pencarian, membantu Anda menentukan kebenaran pesan.
3. Cobalah untuk menghilangkan prasangka pesan sendiri menggunakan alat seluler seperti pencarian gambar terbalik Google, TinEye, dan Detektor Gambar Palsu. Untuk video, coba ambil tangkapan layar dan unggah ke salah satu alat ini.
4. Identifikasi cara termudah untuk menjangkau pengecekan fakta dan organisasi media. Bila perlu, smpan informasi di ponsel sehingga Anda dapat menggunakannya saat dibutuhkan.
5. Periksa fakta, dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi? Sebaiknya jangan cepat percaya, perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.
Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.
6. Cek keaslian foto
Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images.

Untuk melawan hoax, adalah lebih baik masyarakat mengkonsumsi dan memproduksi konten informasi positif. Masyarakat juga harus menyaring apakah informasi dimaksud layak disebarkan atau tidak di media sosial. Apabila informasi bersifat memprovokasi dan mengadu domba masyarakat, sebaiknya jangan disebarkan. Saring dulu informasi sebelum sharing. Demikian bijaknya.

(Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, H Dadang Iskandar Danubrata, SE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *