Warga Kampung Paku Ngeluh Sumur Tercemar, Ini Dugaan Biang Keroknya!

INTELMEDIAUPDATE COM- Warga Kampung Paku Desa Sadeng Kecamatan Leuwisadeng, ontrog gudang yang disulap menjadi pengolahan limbah kecap yang tak jauh dari pemukiman mereka, Senin (17/10/2022).

Mereka mengeluhkan, sumur mereka tercemar limbah, Air sumur menjadi berbau menyengat dan keruh hitam pekat sehingga tak layak minum. Selain itu, penciuman warga juga terganggu dari bau menyengat yang bersumber dari gudang tersebut, mereka khawatir menderita kanker paru-paru.

“Yang dikeluhkan masyarakat limbahnya bau serta airnya tercemar masuk ke sumur warga kami,” ujar Ketua Rt 04/03 Kampung Paku, Soni kepada awak media.

Masih menurutnya, awalnya, pihak manajemen gudang meminta ijin untuk penyimpanan bukan untuk operasi pengolahan limbah kecap.” benar, kalau untuk ijin lingkungan ada tapi awalnya untuk gudang penyimpanan bukan untuk pengepresan kecap,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sadeng Yanuar Lesmana yang datang ke lokasi bersama Satpol-PP Kecamatan Leuwisadeng meminta pertanggungjawaban pihak gudang dan meminta untuk berhenti beroperasi serta memindahkan limbah kecap yang ada didalam gudang dalam waktu satu minggu.

“Kalau mengganggu kenyamanan dan keamanan kesehatan warga kami saya minta tutup, situ yang untung warga kami yang mati. Adapun warga kami yang kerja cuma 5 orang, terus saya harus berat ke mereka sedangkan 100 orang warga kami yang mati, ya enggaklah,” tegas Kades Sadeng Yanuar Lesmana kepada pihak manajemen gudang.Senada, Kasi Trantib Kecamatan Leuwisadeng Chepy tegas akan menutup.

“Kita menindaklanjuti aduan masyarakat, karena merugikan masyarakat pencemaran udara apalagi sumur-sumur sudah hitam dan tercemar dan tidak layak lagi. Dan kita tetap menindak kita tutup, artinya sudah ada surat dari kecamatan,” ucap Kasi Trantib Kecamatan Leuwisadeng Chepy.

Menurutnya, keberadaan limbah kecap karena memang tidak langsung di take away jadi mengendap terlalu lama, akhirnya limbah udara tercium kepada masyarakat.

“Kita kasih tempo satu Minggu untuk segera dibersihkan,” tegasnya.

Pantauan awak media dilapangan, nampak terlihat tidak adanya instalasi pengolahan limbah sehingga air limbah mengalir terbuang begitu saja, merembes masuk ke sumur dan pesawahan milik warga.

Menurut pihak manajemen, kegiatan operasional pengolahan limbah kecap sudah berjalan selama 1 tahun dan terkait perijinan hanya sebatas sampai tingkat kecamatan.

“Ini ada keluhan masyarakat limbah kita rembes kebawah, untuk penanganan dari kami pasang pam bagi yang tercemar. Kami akan tangani ini kalau masih bau, akan terus dievaluasi tempat limbahnya. Terkait perijinan, intinya perijinannya itu hanya sebatas kecamatan, ijin lingkungan sama Rt Soni yang ngurusin kurang lebih ada seratus orang warga menandatangani,” ucap Manajer gudang Sutardi.

Menurutnya, limbah kecap tersebut diproduksi lagi untuk dijadikan pakan ternak kambing atau sapi berbentuk konsentrat serta pupuk.(dipidi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *