Mengenang 26 Tahun Reformasi, Aktivis ’98 Bogor Ingatkan Waspadai Neo Orba

INTELMEDIA- Pertengahan Mei 1998, gelombang aksi mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya terus bergulir bak bola salju, di tiap daerah, dari ke hari ke hari, semakin bertambah besar.

Pada 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa turun ke jalan menggelar demonstrasi dengan isu utama, turunkan Soeharto dan basmi Orde Baru serta anteknya. Pada pendemo pun berhasil menguasai gedung DPR/MPR. Aksi menduduki Gedung Dewan ini terus berlangsung, sampai akhirnya lewat siaran televisi, Presiden Soeharto menyatakan mundur, pada 21 Mei 1998, pukul 09.00 WIB.

Hari ini, Selasa (21/5/2024), tepat 26 tahun usia Reformasi. Aktivis 98, mantan mahasiswa Universitas Parahayangan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Bandung (FKMB), Teddy Risandi menyampaikan pandangannya terkait Reformasi.

“Saat ini, 26 tahun silam Reformasi. Suatu peristiwa berdarah yang hingga kini belum terungkap, aktor terjadinya kerusuhan di Jakarta yang menelan korban hingga penembakan mahasiswa. Berjalannya waktu, tidak membuat orang lupa dengan kejadian yang memakan banyak korban tersebut,” kata Teddy.

Pria yang juga Ketua Pospera Jawa Barat ini meneruskan, lahirnya Reformasi didahului dengan tumpahnya darah.

“Kejadian Mei 1998 merupakan titik sejarah hitam bagi perjalanan bangsa Indonesia. Korban berjatuhan dengan jumlah ribuan orang. Kerugian materi, fisik maupun psikis sama sekali tidak dapat dihindari. Indonesia porak poranda setelah kejadian Mei 1998. Namun, sampai saat ini tidak terungkap siapa dalang dibalik kejadian Mei 1998,” tandasnya.

Teddy juga menyampaikan seruan, agar mewaspadai kebangkitan Orde Baru.

“Rakyat ini memiliki pengalaman tak menyenangkan pada era Orba. Dan, itu berubah saat lahirnya Reformasi. Kebebasan berpendapat, berbicara, demokrasi yang sehat mulai terasa. Mari, kita jaga bersama Reformasi agar tak kembali terengut tangan Neo Orba,” ucapnya.

Terpisah, Shane Hasibuan yang juga aktivis 98, asal IPB menyampaikan, saat ini waktunya unjuk keberanian melawan lupa. Serta, unjuk keberanian melawan Neo Orba.

“Pesan ini disampaikan untuk kaum muda, juga para mahasiswa. Dulu, musuh kaum reformis adalah Orba. Dan, kini Orba berubah wujud menjadi Neo Orba. Dan, waktu memanggil kaum muda untuk berani melawan lupa. Juga, harus berani melawan Neo Orba. Seperti dulu yang dilakukan para mahasiwa 98,” tukas Shane yang juga aktivis Komunitas Alumni Perguruan Tinggi (KAPT) yang diamini sejawatnya Lutfi Awaludin.

Masih menurut Shane, dulu era 98 semasa berunjuk rasa turun ke jalan, para mahasiswa meneriakan yel-yel ‘revolusi sampai mati’.

“Sekarang saatnya para mahasiswa saat ini mengawal reformasi, melawan dan mengkritisi para bandit musuh Reformasi, serta para bandit Neo Orba. Tugas belum selesai, misi juga belum selesai. Saatnya mengisi masa depan reformasi, dengan mengenang dan melanjutkan cita-cita reformasi,” ucapnya.

Sementara, Eko Okta yang juga aktivis 98 asal Front Pemuda Penegak Hak Rakyat (FPPHR), Unpak mengatakan, ada 6 agenda Reformasi yang hingga kini belum tuntas.

“Reformasi terbidani ditandai dengan lengsernya Soeharto dari jabatan presiden di tahun 1998. Banyak anggapan Orde Baru telah berakhir, disusul lahirnya era Reformasi. Padahal, belum!, karena saat ini disinyalir berubah menjadi Neo Orba. Reformasi sendiri berarti re yang artinya kembali. Dan, formasi adalah susunan. Yang artinya, era menata ulang kembali. Jika roh Reformasi ini direnggut Neo Orba, akan kembali ke era dulu, era terror. Ini yang harus diwaspadai dan dicegah,” tuntasnya. (Nesto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *